Sejarah Masa Kelam Israel
Masa Pembuangan Terbesar
Masih ingat dengan Raja Daud? Raja Daud merupakan raja yang mengalami kejayaan lewat kemampuannya yang bisa menyatukan kerajaan Yehuda dan Israel. Sayangnya, karena kebejatan yang dilakukan oleh para penerusnya di hadapan Tuhan, kejayaan ini hanya berlangsung sampai Raja Salomo. Di tahun 750 SEBELUM MASEHI kerajaan Raja Israel Salomo berakhir, kerajaan terpecah menjadi Israel (di utara) dan Yehuda (di selatan).
722 SM, Israel Utara dihancurkan oleh Asyur (nama dahulu dari Babel)
Raja Yosia memiliki tiga orang anak yang bernama Elyakim (yang kemudian berganti nama jadi Yoyakim), Yoahas, dan Zedekia. Raja Yosia meninggal pada umurnya yang ke 39 tahun, pada tahun 609 SM. Dia meninggal dalam pertempurannya dengan Mesir.
Setelah penguburan Raja Yosia di Yerusalem, rakyat negeri itu menjemput Yoahas, yang merupakan anak dari Raja Yosia dan mengangkatnya menjadi raja di tahun 609 SM.
Padahal, Yoyakim merupakan anak yang seharusnya menjadi raja, mengingat kalau dirinya adalah anak sulung dari Raja Yosia. Pada saat itu, Yerusalem punya dua partai yang saling berlawanan: pro Mesir dan pro Asyur. Kedua calon raja itu kemudian dari kubu yang berlain. Yoahas ada di pihak pro Asyur, sementara Yoyakim pro Mesir.
Saat Yoahas menjadi raja, ia tidak seperti ayahnya. Dituliskan bahwa ia melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, seperti yang dilakukan oleh nenek moyangnya terdahulu. Ia meniadakan sistem pemerintahan teokratis yang telah dibangun oleh Yosia. Apa yang dibangun oleh ayahnya dihancurkan oleh Yoahas dalam hitungan bulan saja.
Karena Yoahas datang dari kubu yang pro Asyur, hanya tiga bulan setelah masa pemerintahannya. Firaun Nekho kemudian memecat dan menawan Yoahas. Firaun Nekho mengurung dia di Ribla, di tanah Hamat, supaya Yoahas tidak lagi memerintah di Yerusalem.
Setelah membuat Yoahas, Firaun Nekho mengangkat kakaknya, Elyakim (Yoyakhim) menjadi raja Yehuda yang membebani bangsa Yehuda untuk membayar upeti. Yoahas ditawan oleh Nekho, dan dibawa ke Mesir. Ia tiba di Mesir dan mati di sana.
Masa pemerintahan Yoyakim
Di tahun ke-4 Yoyakim memerintah sekitar 609-598 SM, Yerusalem diserang oleh Nebukadnezar II. Di tahun 605 SM merupakan awal mula dari pembungan pertama, dimana orang-orang yang pintar dan terpandang termasuk Daniel dan teman-temannya ikut diasingkan.
Yoyakim kemudian mati dan ia digantikan oleh anaknya, Yoyakhin. Pengepungan Yerusalem terus terjadi. Pemerintahan Yoyakhin pun hanya berlangsung selama 3 bulan 10 hari. Di tanggal 16 Maret 597 SM, terjadi pembuangan kedua besar-besaran, dimana Raja Yoyakhin dan keluarganya ikut diasingkan. Bahkan, nabi Yehezkiel pun ada di dalam pembungan ini.
Raja Nebukadnezar II mengangkat Zedekia menjadi raja Yehuda. Zedekia merupakan putra bungsu dari Yosia, ia dinobatkan ketika keponakannya, Yoyakhin, diturunkan dari takhta dan dibawa ke Babel bersama dengan putra-putra terbaik dari kerajaan Yehuda. Nabi Yeremia maupun Yehezkiel tampaknya hanya memandang Yoyakhin sebagai raja Yehuda terakhir yang sah.
Masa pemerintahan Raja Zedekia
Raja Zedekia mengadakan pemberontakan kepada Babel, dan meminta bantuan dari Firaun (Mesir). Pemberontakan tersebut membuatkan pengepungan oleh Negara Kasdim dan membuat bait Allah dihancurkan rata menjadi tanah.
Di bulan Julia tau Agustus 586 SM, raja dan keluarganya, serta rakyat Israel diangkut lagi ke pembuangan tanah Babel, yang kemudian menjadikannya sebagai pembuangan ketiga. Jarak dari Israel dan Babel adalah sejauh 800 km. Bangsa Israel ada dalam pembuangan di tanah Babel selama beberapa puluh tahun.
Raja Koresh / Cyrus
Nun jauh di sana, kerajaan Persia memiliki raja baru yang kuat dan sangat berkarisma bernama Koresh atau disebut juga Cyrus. Koresh (atau Kurush, nama Persianya) dilahirkan sekitar tahun 576 SM di provinsi Persis (kini bernama Fars) yang terletak di barat daya Iran.
Saat itu, daerah tersebut merupakan provinsi kerajana Media. Koresh berasal dari keturunan penguasa lokal yang merupakan bawahan dari Raja Media. Menurut suatu legenda, Koresh merupakan cucu dari Raja Media, yang dibuang karena ada ramalan buruk bahwa kelahiran akan dirinya justru akan menghancurkan Media.
Bayi Koresh ini kemudian disembunyikan oleh salah seorang pengawalnya, Harpagus, dan ia memelihara bayi ini. Ramalan yang ada ternyata terbukti, bahwa Koresh dewasa kemudian menjadi raja Persia-Media.
Di tanggal 5 Oktober 539 SM (kalender Gregorius, atau tanggal 11 Oktober kalender Julius), Raja Belsyazar mengadakan pesta besar bagi seribu pembesarnya, seperti yang diceritakan dalam Daniel pasal 5 (Dan 5:1). Pada waktu itu, Babilon tercancam dikepung oleh Koresh dari Persia juga sekutunya, Darius dari Media. Raja Belsyazar saat itu bertindak kurang ajar dan menentang Tuhan semesta alam dengan memerintahkan agar perkakas bait Allah dikeluarkan dari tempat penyimpanannya untuk digunakan dalam pesta tersebut.
Seketika, muncul tangan yang menulis di dinding. Daniel dipanggil untuk mengartikan maksud dari tulisan tersebut. Di malam itu pula, Raja Besyazar terbunuh. Imperium neo Babilonia berakhir sudah. Tentara Persia-Media dibawah kepemimpinan Darius merebut kota tanpa harus bertempur.
Kejatuhan Babel dan Kerajaan Persia-Media
Pada tahun 539 SM, Babel jatuh ke tangan Persia-Media. Dari sini, kita bisa belajar kalau nggak ada yang namanya keabadian, sebab setelah hampir 70 tahun dari pembungan pertama, Babel yang besar itu bisa kalah dan direbut oleh kerajaan Persia-Media. Pada tahun 537 SM, terjadi pemulangan Bangsa Israel.
Koresh yang Agung atau Cyrus II meninggal pada tahun 530 SM dan digantikan oleh anaknya, Cambyses II. Namun, usia Raja Cambyses tidak panjang, ia meninggal di tahun 522 SM tanpa memiliki anak. Ia digantikan oleh saudaranya, yaitu Raja Bardiya.
Sejarah mencatat kalau akhirnya Bardiya meninggal tanpa diketahui sebabnya, meskipun ada sumber sejarah yang mengatakan bahwa Bardiya dibunuh oleh 6 orang, dimana diantaranya ada Darius yang ikut andil dalam pembunuhan tersebut. Selanjutnya kekaisaran Persia dan Media bersatu dibawah Darius I atau Darius yang Agung.
Orang-orang Israel mulai dipulangkan kembali ke Yerusalem sejak pemerintahan Raja Koresh atau Cyrus II dan dilanjutkan sampai dengan masa raja Artahsasta atau sejak tahun 537 – 444 SM.
Sejarah tidak berhenti, kerajaan tidak ada yang abadi. Kerajaan Persia Media runtuh di tahun 330 SM dan dilanjutkan dengan kekaisaran Alexander the Great, yang ternyata sudah ada dalam nubuatan di Alkitab.
Nasib Israel Setelah Kembali Dari Pembuangan
Pada masa ini, pembangunan Bait Suci kedua telah selesai di bawah kepemimpinan empat nabi terakhir orang Yahudi, yaitu Ezra, Hagai, Zakharia, dan Maleakhi yang disetujui dan dibiayai oleh kekaisaran Persia.
Alkitab mencatat kalau setelah setelah kembali dari pembuangan di Babel di bawah pimpinan Zerubabel, pengaturan segera dilakukan untuk menata kembali Provinsi Yehuda yang ditinggalkan kosong setelah runtuhnya Kerajaan Yehuda tujuh puluh tahun sebelumnya.
Rombongan jemaat yang terdiri dari 42.360 orang yang telah menyelesaikan perjalanan yang panjang dan suram selama sekitar empat bulan dari tepi sungai Efat ke Yerusalem, bertugas untuk membangun tembok Yerusalem yang sudah roboh menjadi Bait Allah.
Konstruksi Bait Allah baru dimulai sejak tahun 535 SM. Pembangunannya selesai pada 12 Maret 515 SM. Seperti yang sudah dijelaskan dalam Kitab Ezra, pembangunan kembali Bait Allah disusun oleh Koresy yang Agung dan disahkan oleh Darius yang Agung.
Kitab Nehemia mengungkapkan kehidupan setelah bangsa Israel bebas dari Babel menuju tanah perjanjian di tanah Kanaan. Di bawah pimpinan Nehemia, bangsa Israel berhasil membangun kembali tata agama dan politik, juga membangun tembok yang mengelilingi Yerusalem sekaligus mengadakan upacara pembaruan perjanjian antara umat Israel dan Allah Israel.
Tidak sampai disitu, Raja Koresy yang Agung juga memberikan dana untuk membangun kembali Bait Suci di Yerusalem. Kepulangan sekaligus perbaikan ini dilaksanakan secara bertahap, saling terjalin dan juga terarah. Bait Suci yang berdiri ditengah-tengah kota Yerusalem dikelilingi oleh tembok kota Yerusalem.
Nabi Nehemia bertugas untuk membangun tembok Yerusalem. Sementara Nabi Ezra, Hagai, dan beberapa nabi, imam, dan ahli Taurat yang ikut dalam rombongan kedua yang pulang dari pembuangan, lebih banyak mengurusi pembangunan Bait Suci kedua.
Wahyu mengenai penguasa di dunia
Sekembalinya bangsa Israel ke tanah Kanaan atau Yerusalem, Daniel mendapatkan wahyu dari Tuhan mengenai masa depan kekaisaran di dunia.
(2) Oleh sebab itu, aku akan memberitahukan kepadamu hal yang benar. Sesungguhnya, tiga raja lagi akan muncul di negeri Persia, dan yang keempat akan mendapat kekayaan yang lebih besar dari mereka semua, dan apabila ia telah menjadi kuat karena kekayaannya, ia akan berusaha sekuat-kuatnya untuk melawan kerajaan Yunani.
Penglihatan ini disebutkan terjadi pada Tahun ketiga Pemerintahan Koresh/cyrus the great raja Persia ( Daniel 10:1), disebutkan pada Daniel 11:2 bahwa “… 3 raja lagi akan muncul di negeri Persia”.
Dari sejarah kita mengetahui penerus pemerintahan Cyrus / Koresh adalah Cambyses anak dari Cyrus the great yang meninggal pada saat berusaha memadamkan pemberontakan,kemudian Bardiya dan yang ketiga adalah Darius I/Darius Hystaspes.
‘… yang keempat akan mendapat kekayaan yang lebih besar …..ia akan berusahan sekuat2 nya untuk melawan kerajaan Yunani’
Setelah Darius Hystaspes, Raja keempat setelah Cyrus/Koresh adalah Xerxes I/Xerxes The great.
Xerxes I berusaha untuk menguasai kerajaan Yunani. Sebenarnya, dia berhasil menang pada pertempuran terkenal yang bernama Battle of Thermopylae. 300 pejuang Spartan yang pemberani dipimpin oleh Raja Leonidas berhasil menahan serangan invasi dari pasukan Persia.
Sayangnya, mereka dikalahkan karena pengkhianatan yang dilakukan oleh Ephialtes yang menunjukkan jalan masuk alternatif ke tentara Xerxes. Xerxes akhirnya menerima kekalahan besar pada pertempuran Salamis pada tahun 480 SM, dan tentara Persia akhirnya kembali ke negaranya sendiri.
(3) Kemudian akan muncul seorang raja yang gagah perkasa, yang akan memerintah dengan kekuasaan yang besar dan akan berbuat sekehendaknya.
Seorang Raja yang gagah perkasa akan muncul, dimana raja perkasa itu tak lain adalah Alexander Agung, Raja kerajaan Yunani yang menginvasi kerajaan Persia. Dirinya membunuh Bessus/ Artaxerxes V Raja persia dan menguasai Persia pada tahun 330 SM.
Kerajaan Persia dipimpin oleh kurang lebih 9 Raja. Pada penglihatan ini kita lihat bahwa terjadi kekosongan nubuat yang cukup lama yakni dari tahun berakhirnya pemerintahan xerxes I sampai pada berakhirnya pemerintahan Artaxerxes V yakni dari tahun 465 SM sampai dengan 329 SM.
Penting buat diketahui kalau Alexander the Great merupakan seorang Yunani yang berumur 20 saat dirinya baru diangkat menjadi raja. Alexander the Great meninggal di usianya yang ke 32 tahun. Meski usianya tergolong singkat, tapi dirinya bisa menjadi raja yang agung karena ia berhasil melakukan ekspansi dan menguasai imperium yang besar, yaitu Persia, Media, Mesir, bahkan sampai India di antara tahun 336-323 SM (sesuai dengan nubuatan Kitab Daniel 8 dan 11).
Jadi, bisa dikatakan kalau akhirnya pada tahun 331 SM, Persia jatuh, sehingga membuat kekaisaran Yunani berhasil menguasai Israel. Pada tahun 320 SM, Yunani terpecah menjadi 4 kerajaan: Tolemayos (Suriah Selatan, Mesir, Israel), Seleukos (Suriah Utara, Mesopotamia), Lisimakhos (Asia Kecil/Turki), Kasanndros/Makedonia
Bagi orang Israel, inilah yang disebut sebagai masa The Silent Age, dimana masa berakhirnya masa Perjanjian Lama dan terjadi sebelum masa Perjanjian Baru, yaitu zaman Yesus Kristus. Jarak antara Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru adalah 380 tahun.
Kehancuran Bait ALLAH Yang Kedua
Setelah runtuh di tahun 63 SM, Romawi jadi penakluk dunia, dimana Herodes Agung berkuasa sampai tahun 4 SM. Kemudian, Herodes Agung digantikan oleh Herodes Antipas. Di tahun 4 SM itulah, Tuhan Yesus lahir.
Israel dikuasai oleh kerajaan Romawi selama beberapa ratus tahun. Meski dalam kekuasaannya, pihak Romawi tetap mengijinkan bangsa Yahudi untuk bisa melaksanakan ibadah. Hukum Taurat dipelihara dengan baik oleh ahli Taurat dan orang Farisi. Sebelumnya, sempat terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh orang Israel, namun hal ini bisa dipadamkan oleh Roma.
Pada masa itu, Israel punya 13 gubernur yang sudah memerintahnya, salah satu yang terkenal adalah Pontius Pilatus, yang adalah pemerintah yang menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus. Gubernur terakhir yang memerintah adalah Gessius Florus (64-66 M).
Disebutkan, Gessius Florus ini merupakan pemerintah yang jahat. Buat dirinya, agama atau iman Yahudi tidak berarti apa pun. Bahkan, tidak jarang ia menghina dan mengacuhkan iman Yahudi ini. Hal ini kemudian menjadikan tentara-tentara Roma di bawah Florus bersikap demikian pada iman Yahudi.
Ada satu waktu dimana tentara Roma merobeh sebuah kitab Taurat Yahudi di hadapan umum. Bahkan, ia menertawakan upacara penyembahan pada masa raya Paskah. Mereka mengizinkan orang kafir membuka took di depan pintu rumah sembahyang Yahudi di Kaesaria, yang menjadikan rumah sembahyang mereka ternodai.
Suatu kali, di saat orang Yahudi sedang melaksanakan kebaktian di hari Sabat, orang kafir itu mempersembahkan seekor burung sebagai korban di samping pintu masuk rumah sembahyang dengan tujuan untuk menghujat rumah sembahyang mereka. Celakanya, ketika masalah masalah ini diadukan kepada Florus, dia malah mengabaikannya.
Hal-hal yang seperti inilah yang menjadikan orang Yahudi marah bukan kepalang. Orang Yahudi memendam kemarahan itu di dalam hati mereka. Secara tidak langsung, kemarahan tersebut telah menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Kejahatan di atas ini belum dihitung dengan kebejatan dan kejahatan yang dilakukan oleh Florus sendiri.
Hal ini kemudian memicu pemberontakan yang dilakukan oleh beberapa anak muda Yahudi. Mereka menyimpab pisau atau golok dibalik baju, dan setiap kali bertemu dengan tentara Romawi, mereka akan membunuhnya. Lama-lama, gerakan ini semakin besar dan kelompok ini semakin meluas. Mereka disebut sebagai kelompok golok atau dalam Bahasa Yunani, mereka disebut sebagai ZELOT.
Mereka berketetapan untuk mencapai tujuan revolusi ini dengan kekuatan militer, bahkan partai Zelot menegaskan selain Allah, tak seorang manusia pun yang berhak memerintah. Mereka menuntut pemulihan pemerintahan Theokrasi zaman dahulu, mereka bersumpah akan berjuang melawan kerajaan Roma dengan mempertaruhkan mati hidup mereka.
Pada tahun 66 Masehi, Florus yang gila harta ini menyerbu masuk ke Yerusalem. Bersama dengan pasukannya, ia masuk ke dalam Bait Allah dan merampok emas-emas yang ada di Bait Allah.
Tindakan ini sempat mendapatkan perlawanan dari rakyat dengan melempari mereka dengan batu. Sayangnya, hal ini tidak berhasil. Florus berhasil mengambil 17 talenta emas. Orang Yahudi marah, mereka megolok-olok Florus dengan mengedarkan kantong kolekte dan mengumpulkan koin-koin sebagai persembahan untuk gubernur yang rakus itu. Cara ini berhasil membuat Florus tersinggung dan menyerbu massa yang kemudian menimbulkan kekacauan besar. Ada banyak sekali orang Yahudi yang terbunuh pada hari itu.
Kaisar Nero yang saat itu berkuasa di Roma pada tahun 67 SM akhirnya turun tangan dengan memerintahkan panglima perang yang bernama Vespasianus untuk memadamkan pemberontakan di Yudea.
Vespasianus dinilai sebagai orang yang cukup berpengalaman, sehingga sedikit demi sedikit ia berhasil memadamkan pemberontakan kaum Zelot. Namun, sebelum akhirnya ia bisa menyerang Yerusalem, ada kabar bahwa Nero meninggal dan dia pulang ke Roma.
Vespasianus ini kemudian menjadi seorang kaisar Roma, dimana kemudian, dia mengutus anaknya yang bernama Titus untuk merebut kembali Yerusalem. Jenderal Titus maju dengan pasukannya yang sangat besar. Namun, karena medan perang berada di daerah pegunungan, penyerangan terhadap kota Yerusalem ini dinilai sukar untuk dilakukan. Karena itu, strategi yang mereka jalankan adalah dengan melakukan pengepungan terhadap kota Yerusalem.
Sementara itu, kota Yerusalem sendiri sedang terjadi pertikaian internal untuk memperebutkan kursi pimpinan dari Zelot. Saking parahnya, pertikaian internal tersebut mengakibatkan dibakarnya gudang makanan Yerusalem.
Akhirnya kelaparan yang besar melanda penduduk kota Yerusalem, bahkan berakhir tragis. Ada seorang ibu yang bahkan rela merebus anak bayinya sendiri agar bisa mendapatkan makanan. Banyak penduduk yang saat malam tiba, diam-diam keluar dari tembok hanya untuk mencari akar sebagai bahan makanan mereka. Mereka yang ketahuan kemudian ditangkap dan disalibkan. Setiap malamnya, ada 500 orang yang ditangkap dan disalib.
Flavius Josephus selaku sejarahwan mengungkapkan kalau saat itu, ada 2 juta orang dan mayat di kota Yerusalem sebagai akibat dari pertikaian dan kelaparan di dalam kota. Sampai pada bulan ke lima pengepungan, tentara romawi menyerbu masuk ke Yerusalem.
Mereka membunuh 1,1 juta rakyat Yahudi dan membakar habis kota Yerusalem termasuk mencongkel bata demi bata di Bait Allah untuk di ambil emasnya. Runtuhlah Bait Allah kedua seperti yang dinubuatkan oleh Tuhan Yesus. ( Markus 13:1-2 )
Kemanakah perginya orang-orang Kristen ketika pemberontakan orang Yahudi itu berlangsung? Sesuai peringatan Kristus (Luk. 21:20-24), mereka lari ketika melihat Yerusalem dikepung pasukan Romawi. Mereka menolak mengangkat senjata dan melawan orang-orang Romawi. Mereka melarikan diri ke Pella di Transyordania.
Setelah bangsa Yahudi serta Bait Allah mereka hancur, orang-orang Kristen pun tidak dapat lagi bergantung pada perlindungan terhadap Yudaisme yang pernah diberikan kekaisaran. Karenanya, tidak ada tempat lagi bagi orang-orang Kristen untuk berlindung dari penyiksaan orang-orang Romawi.
Saat ini hanya tembok ratapan yang ada di sisi barat yang merupakan sisa terakhir dari bait Allah yang dihancurkan oleh Titus.
Ya, sejak jenderal Titus (kemudian menjadi kaisar menggantikan ayahnya Vespasianus) menaklukkan Yerusalem dan membasmi orang-orang Yahudi, maka tamatlah riwayat Israel sebagai sebuah bangsa. Orang-orang Yahudi yang tersisa sudah dibuang dan terserak ke berbagai bangsa.
Mereka meninggalkan tanah air mereka dan hati yang hancur lebur terutama karena ingatan mereka akan kota suci Yerusalem. Dalam pengembaraan mereka, air mata sering jatuh ketika mengingat kembali Yerusalem yang dulu dan doa-doa dinaikkan untuk pemulihan Yerusalem. Mereka terbiasa mengutipkan kembali ayat dari kita Yesaya untuk dinyanyikan.
Masuknya Islam ke Israel
Setelah memulihkan kesatuan kekaisaran, menjadi sponsor konsolidasi masyarakat Kristen, sekaligus karena sedang melakukan reformasi besar dalam pemerintahan, Khalifah Umar bin Kattab sadar akan keterbatasan Roma sebagai sebuah ibukota. Roma terlalu jauh dari garis perbatasan, juga, jauh pula dari angkatan bersenjata dan dewan kekaisaran.
Pada tahun 423 M, Kaisar Konstantinus I memindahkan ibukota Romawi dari Roma ke kota Byzantium yang akhirnya dikenal sebagai kota Konstantinopel. Konstantinopel sendiri dibangun selama enam tahun lamanya, dan diresmikan tepat pada 11 Mei 330. Konstantinus membagi kota yang diperluas tersebut menjadi 14 kawasan, seperti Roma. Kemudian, ia mendandaninya dengan berbagai fasilitas yang layak bagi sebuah metropolis kekaisaran.
Pada tahun 610 nabi Muhammad mulai menyebarkan agama Islam. Ada beberapa pihak yang menentang nabi Muhammad, diantaranya adalah Khalifah Umar, yang merupakan anak dari Al-Khattab sehingga dikenal sebagai Umar bin Khattab. Namun, pada kahirnya, Umar bin Khattab memeluk Islam dan menjadi salah satu pemimpin dalam perluasan imperium Islam di dunia.
Pribadi Umar bin Khattab merupakan orang yang snagat dihormati di kota Mekkah. Dirinya dikenal sebagai tokoh yang ahli strategi dalam perang, juga jago bertempur. Sepeninggal Abu Bakar yang adalah Khafilah pertama, Umar merupakan Khafilah kedua dalam sejarah Islam.
Selama pemerintahan Umar, kekuasaan Islam tumbuh dengan sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian wilayah Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia (yang mengakhiri masa kekaisaran Sassanid) serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium). Saat itu, ada dua negara besar yaitu Persia dan Romawi. Kedua negara besar itu berhadil ditaklikan oleh kekhalifahan Islam dibawah pimpinan Umar.
Sejarah mencatat kalau ada banyak pertempuran besar yang menjadi awal dari penaklukan ini. Pada pertempuran Yarmuk, yang terjadi di dekat Damaskus pada tahun 636, 20 ribu pasukan Islam mengalahkan pasukan Romawi yang mencapai 70 ribu dan mengakhiri kekuasaan Romawi di Asia Kecil bagian selatan.
Pada tahun 610, Kekaisaran Sasania Persia mengalahkan Romawi dan merebut Palestina. Umat Yahudi diberi wewenang untuk mendirikan negara bawahan dan mulai membangun Bait Suci. Namun lima tahun kemudian, Romawi kembali mengambil alih Palestina dan umat Kristen menghancurkan Bait Suci yang belum selesai pembangunannya dan menjadikan tempat itu sebagai tempat pembuangan sampah.
Pada tahun 637, setelah pengepungan yang lama terhadap Yerusalem, pasukan Islam akhirnya mengambil alih kota tersebut. Umar diberikan kunci untuk memasuki kota oleh pendeta Sophronius dan diundang untuk salat di dalam gereja (Church of the Holy Sepulchre). Umar memilih untuk shalat di tempat lain agar tidak membahayakan gereja tersebut. 55 tahun kemudian, Masjid Umar didirikan di tempat ia shalat.
Umar lebih memilih untuk shalat di Masjid Al Aqsha yang saat itu berupa puing-puing dan memerintahkan pembersihan, dan memberi akses pada umat Yahudi ke dalam kompleks tersebut.
Masjid Al Aqsha adalah nama dari keseluruhan kompleks tersebut, sedangkan Kubah Shakhrah atau Dome of Rock adalah salah satu bangunan yang berdiri di kompleks tersebut, tepatnya berada di bagian tengah kompleks.
Dome of the Rock, arti harfiah: "Kubah Batu" adalah sebuah bangunan persegi delapan berkubah emas yang terletak di tengah kompleks Masjid Al Aqsha.Bagi umat Islam, Masjidil Aqsa adalah kiblat pertama dan masjid suci ketiga terbesar setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah.
Bagi umat Kristen, di tempat itu Yesus disalib dan dibangkitkan. Sementara bagi umat Yahudi, Kota Tua Yerusalem adalah tempat paling suci, situs bekas kerajaan Israel dan kuil-kuil Yahudi.
Itu sebabnya kota Yerusalem sampai sekarang menjadi tempat suci bagi ketiga agama tersebut, yaitu Yahudi, Islam dan Kristen.
Perang Salib (Kristen vs Islam)
Perang Salib merupakan salah satu perang yang paling dikenal sepanjang sejarah. Kata kuncinya, perang ini nggak cuma merujuk pada perebutan kota suci Yerusalem, melainkan juga sebagai perang suci antara dua agama besar: Islam dan Kristen.
Terjadinya Perang Salib antara Timur: Islam melawan Barat: Kristen ini disebabkan oleh banyak faktor, misalnya agama, politik, juga sosial ekonomi.
Dalam buku sejarahnya yang berjudul The Crusades through Arab Eyes (2006) , sastrawan Amin Maalouf berpendapat kalau pemicu Perang Salib dimulai dari Asia Tengah. Di sana, orang Turki yang telah hidup selama ribuan tahun sebagai masyarakat suku nomaden bayak ditakuti karena ketangguhannya dalam berbagai pertempuran.
Dinasti Abbasiyah memanfaatkan keterampilan orang Turki dalam peperangan dengan merekrut jenderal-jenderal dari Asia Tengah untuk berkhidmat dalam kekuatan militernya sejak awal abad kesembilan.
Migrasi missal orang Turki terjadi saat banyak suku-suku yang keluar dari Asia Tengah dan mengenal Islam. Dalam migrasi itulah, suku-suku Turki banyak yang menganut agama Islam dan mendirikan negara bagiannya sendiri di tengah kondisi politik yang masih belum stabil pada abad kesepuluh. Negara bagian terbesarnya merupakan Kerajaan Seljuk Agung yang didirikan pada 1037 M.
Seljuk mendirikan negara ajek yang membentang dari Suriah ke Asia Tengah. Saat itu terjadi, era kekuasaan Abbasiyah hanya tinggal nostalgia, sementara Seljuk mengambil peran sebagai pelindung kekhalifahan, yang berkubu di istana mereka yang terletak di Bagdad.
Sebagai Islam Suni yang teguh, Seljuk bahkan mampu menjadi penyeimbang Fatimiyyah dan mencegah ekspansinya pada abad kesebelas. Kemudian, pada tahun 1071 Masehi, Seljuk memenangi pertempuran krusial melawan Byzantium di Anatolia timur.
Peperangan Manzikert membuat Byzantium tidak mampu lagi mempertahankan Anatolia pasca pertempuran itu, sedikit demi sedikit Seljuk melebarkan sayapnya ke arah barat di seluruh semenanjung, sampai mereka tiba di pantai yang berhadapan dengan Konstantinopel, lalu mengancam masuk ke kota kerajaan dan sekitarnya.
Asia Kecil dan seluruh Suriah menjadi milik bani Saljuk. Antiokhia menyerah pada tahun 1084, dan pada tahun 1092 tidak ada satu pun kota besar di Asia yang dikuasai oleh Kristen.
Hal ini membuat para penguasa di Eropa mulai khwatir dengan kebangkitan kekuatan dari timur itu akan mengganggu kestabilan negara-negara di wilayah barat, khususnya negara mereka sendiri. Mereka beranggapan harus segera menghentikan pergerakan orang-orang Muslim jika mereka tidak ingin kekuasaannya terganggu.
Hal ini diperparah dengan aturan dari bani Saljuk yang membatasi dan memperketat ziarah umat Kristen ke Yerusalem. Hal ini mendorong umat Kristen untuk mendapatkan kebebasannya kembali dengan berusaha merebut Yerusalem dari tangan kaum Muslim.
Kaisar Byzantium, Alexios, menyadari kalau pihaknya tak mampu memerangi Turki sendirian. Meskipun terdapat persaingan antara Kristen Timur dan Kristen Barat selama berabad-abad, Alexios yakin bahwa hanya persatuan Kristen yang dapat mencegah keruntuhan Kekaisaran Byzantium.
Dia mengirimkan permohonan kepada Paus Urban II di Roma untuk meminta bantuan, berupa pasukan ekspedisi yang bisa membalikkan keadaan dan memperoleh kembali daerah-daerah yang erak sejak pertempuran Manzikert. Atas nama Kristus, Paus Urban memanfaatkan kesempatan ini untuk mengerahkan pasukan Kristen pan-Eropa yang berjumlah hingga puluhan ribu orang.
Namun, Paus Urban II tak berniat membantu Alexios atau bahkan melawan Turki. Dia mengarahkan tujuan ke Jerusalem. Sambil mengutuki fakta bahwa Jerusalem telah jatuh ke tangan muslim sejak kekhalifahan Umar, Paus Urban II berseru kepada seluruh umat Kristen untuk mendukung ekspedisi penaklukan Jerusalem dan mendirikan Kerajaan Kristen Latin di Palestina di bawah otoritas Kepausan.
Pasukan Urban langsam terhimpun, hingga pada 1096 dan 1097, pasukan yang dipimpin bangsawan dan kesatria itu mulai bergerak ke Eropa Timur dari Prancis, Jerman, dan Italia. Sepanjang perjalanan, banyak orang Yahudi Eropa dibantai akibat semangat keagamaan yang dikobarkan Gereja.
Perang Salib ini membuat banyak orang Yahudi yang terbunuh. Selain itu, kejadian ini membuat orang Yahudi semakin tersebar ke berbagai negara di seluruh dunia.
Peperangan Akhir Hingga Israel Merdeka
Pada tahun 1897 M, terjadi sebuah kongres orang Yahudi di diaspora pertama yang diselenggarakan di Basel, Swiss. Diaspora sendiri merupakan penduduk asli suatu negara yang tersebar di luar negeri. Herzl mulai dikenal dengan gagasan Zionisme yang sama dengan Aliyah (orang Yahudi kembali ke Israel). Aliyah kedua terjadi pada tahun 1904-1914 dari Rusia dan Polandia.
Di tahun 1909 Kibbutz pertama dibangun di Degania, Tel Aviv. Kibbutz merupakan kampung Yahudi yang terintegrasi secara sosial-ekonomi. Pada awal abad 20 ini, Ottoman kalah dari Inggris setelah berkuasa selama 400 tahun berkuasa di Israel. Hal ini menandai keruntuhan kekhalifahan Islam terakhir.
Deklarasi Balfour yang dikeluarkan oleh Inggris pada tahun 1817 berisikan pernyataan publik yang mengumumkan dukungan pendirian “tanah air bagi orang Yahudi” di Palestina. Saat itu, daerah tersebut merupakan sebuah kawasan Utsmaniyah dengan populasi minoritas Yahudi.
Keruntuhan kekhalifahan Islam membuat Inggris berkuasa atas Israel di tahun 1918-1948. Inggris memihak pada kemerdekaan Israel, bahkan tersiar kabar kalau ratu Elizabeth II memiliki darah Yahudi.
Hal ini membuat banyak orang-orang Israel yang tadinya lari ke negara-negara lain kembali ke Israel. Pada tahun 1919-1923, terjadi Aliyah yang ketiga dari Rusia. Di tahun 1921, Liga Bangsa-bangsa setuju bahwa tanah Israel untuk orang Yahudi. Untuk pertama kalinya tahun 1924 Technion, institute teknologi Israel berdiri di Haifa.
Antara tahun 1939-1945, terjadi Perang Dunia Kedua. Karena Israel berada di bawah kerajaan Inggris, maka mereka membentuk Jewish Brigade pada tahun 1944 sebagai bala bantuan bagi pasukan Inggris.
Kemudian, pada akhir perang dunia II atau tahun 1947, pendirian negara Arab Palestina dan Yahudi Palestina di Tanah Israel diajukan ke PBB. Yahudi Palestina (Israel) menerima pembagian tanah tersebut.
Ketika masa kekuasaan Inggris atas Israel berakhir di tanggal 14 Mei 1948, maka wilayah Yahudi Palestina sah menjadi Israel.
Namun, perjuangan Israel untuk merebut kemerdekaannya tidaklah mudah. Sehari setelah mereka mendeklarasikan kemerdekaannya, Israel diperangi 5 negara Arab sekaligus: Mesir, Yordania, Lebanon, Suriah dan Mesir, sementara tidak ada satu pun orang Palestina yang ikut berperang.
Selama kurun waktu Mei 1948 sampai Juli 1949 Perang Kemerdekaan Israel, gencatan senjata dengan Mesir, Yordania, Suriah dan Lebanon. Yerusalem dibagi di bawah Yordania (Yerusalem Timur) dan Israel (Yerusalem Barat), Yerusalem Timur tidak pernah menjadi milik Palestina.
Berdirinya kembali Negara Israel menggerakkan banyak orang Israel yang selama ini berada di luar negeri untuk kembali ke tanah tercinta. Diantara tahun 1948 -1952 terjadi Aliyah dari Eropa dan negara Arab (Irak, Maroko, Yaman)
Israel resmi menjadi anggota PBB ke-59 pada tahun 1949
Gencatan senjata di tahun 1949 masih menyisakan rasa tidak puas bagi negara Arab. Di tahun 1967, terjadi perang selama enam hari. Israel dikeroyok oleh negara-negara Arab. Israel menang atas perang tersebut, dan berhasil merebut Yerusalem Timur, Dataran Tinggi Golan, Sinai dan Gaza.
Gaza merupakan kota warisan suku Yehuda. Dari perang 6 hari inilah Israel kembali mendapatkan tanah lama yang dulu merupakan warisan nenek moyang raja Daud. Namun, wilayah ini sempat lepas dari Israel karena mereka terbuang jauh dari negerinya selama berabad-abad.
Kemenangan di tahun 1967 ini juga membuat Israel melakukan perluasan sebanyak empat kali luas wilayah yang dikuasainya. Mesir kehilangan Semenanjung Sinai dengan luas 23.200 mil persegi dan Jalur Gaza, Yordania kehilangan Tepi Barat dan Yerusalem Timur, sementara Suriah kehilangan Dataran Tinggi Goldan yang strategis.
Ketika Anwar el-Sadat menjadi presiden di tahun 1970, ia menyadari kalau Mesir tidak dapat melanjutkan peperangan dengan Israel lantaran kondisi ekonomi yang sedang terpuruk. Sadat ingin menciptakan perdamaian, stabilitas, juga kembalinya semenanjung Sinai, tetapi kemenangan Israel di tahun 1967 tidak memungkinkan perdamaian tersebut dapat menguntungkan Mesir.
Kemudian, Sadat kembali menyusun rencana untuk menyerang Israel lagi. Meskipun kemungkinan tidak berhasilnya besar, Sadar berusaha meyakinkan orang Israel bahwa perdamaian dengan Mesir itu diperlukan kalau mereka tidak mau mengalami serangan terus-menerus.
Pasukan Mesir dan Suriah kembali melancarkan serangan terhadap Israel saat perayaan Yom Kippur pada tanggal 6 Oktober 1973. Harapannya, mereka mau mendapatkan kembali wilayah yang diduduki Israel selama perang Arab-Israel pada tahun 1967.
Penyerangan ini membuat pasukan pertahanan Israel terkejut, sehingga mereka terpaksa memukul mundur pasukan Israel jauh ke Semenanjung Sinai, sementara Suriah tengah berjuang untuk menduduki kembali Dataran Tinggi Golan yang dikuasai oleh Israel. Israel kemudian melakukan serangan balasan dan merebut kembali Dataran Tinggi Golan. Sebuah gencatan senjata akhirnya diberlakukan pada tanggal 25 Oktober 1973.
Perang ini dimenangkan kembali oleh Israel, meski pada akhirnya, Israel harus merugi dengan jumlah yang sangat besar. Pada April 1974, PM Israel Gold Meir mengundurkan diri setelah mendapatkan serangkaian kritik bahwa pemerintah kurang siap dalam menghadpai pasukan Arab, sehingga mengakibatkan banyak korban jiwa yang gugur dalam perang.
Meski Mesir kembali mengalami kekalahan dari Israel, citra Mesir dalam pertempuran ini meningkatkan nilai Sadat di Timur Tengah dan memberinya kesempatan untuk mencari perdamaian. Di tahun 1974 terjadi satu dari dua perjanjian perdamaian Mesir-Israel dilakukan mengakibatkan kembalinya bagian Sinai ke Mesir.
Bagi Suriah, perang Yom Kippur merupakan sebuah bencana. Gencatan senjata Mesin-Israel yang tidak terduga ini mengekspos Suriah pada kekalahan militer, dan menjadikan Israel merebut lebih banyak lagi wilayah di Dataran Tinggi Golan.
Suriah mengajak dan mendukung negara-negara Arab lainnya untuk mengusir Mesir dari Liga Arab karena dianggap penghianat dan mementingkan kepentingannya sendiri pada tahun 1979.
Komentar
Posting Komentar